Selasa, 18 November 2008

INERRANCY ALKITAB (BIBLIOLOGI)

PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan ini memaparkan tentang analisa permasalahan. Hal ini dimaksudkan agar pembaca mengenal fenomena iman Kristiani dan pergeseran paradigma teologi, khususnya berkaitan dengan penerimaan dan sikap terhadap Kitab Suci, Alkitab. Selanjutnya akan dikemukakan tentang pemahaman tema, serta lingkup dan sistematika pembahasan.

Analisa Masalah

Alkitab memiliki keunikan tersendiri, yang tak tersaingi oleh kitab lain manapun yang pernah ada dan yang akan ada di dunia ini. Sekalipun Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 orang, dengan latar belakang yang berbeda, tapi keselarasan dan kontinuitasnya terpelihara. Para penulis yang terpilih itu, terdiri dari raja-raja, petani, filsuf, nelayan, dokter, negarawan, sarjana, penyair, dan pembajak sawah.

Mereka hidup di negeri yang berbeda dan dengan pengalaman yang berbeda pula. Mereka tidak dalam satu generasi sehingga tidak pernah mengadakan pertemuan, konsultasi, seminar, lokakarya, konferensi, atau yang semacamnya untuk suatu persetujuan atau kesepakatan mengenai pembagian tugas, materi, outline, tujuan dan alamat penulisan. Alkitab ditulis dalam satu periode sejarah yang cukup panjang, memakan waktu kurang lebih 1.600 tahun. Tak dapat disangkal bahwa kumpulan dari 66 kitab ini merupakan kitab yang paling banyak dibaca dan terus-menerus dibaca; paling banyak bahasa terjemahan, paling banyak jilid penerbitan, dan paling banyak mempengaruhi hidup manusia. Tak terhitung orang yang rela menjadi martir, yang rela dianiaya, dan yang rela mengorbankan apa saja karena keyakinannya berdasar Alkitab. Sementara yang lain meninggalkan kehidupan yang jahat, dan yang lain lagi dikuatkan dari keputusasaan karena keyakinan akan Alkitab sebagai firman Allah.

Karena fenomena ini, Alkitab terus diselidiki dan dipermasalahkan apakah layak mendapat perhatian istimewa dibandingkan dengan kitab-kitab lain di dunia ini, dan bagaimana relevansinya dengan kehidupan manusia dan dunia yang terus berubah. Timbul pro-kontra di antara para sarjana Alkitab (baca: teolog), sehingga mereka mengorbankan banyak waktu untuk membela atau sebaliknya “menyerang” Alkitab. Dalam studi teologi sistematika masalah ini dibahas khusus dalam sektor bibliologi. Salah satu pokok yang dipermasalahkan adalah keyakinan tradisional bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tanpa kesalahan (Inerrancy) dalam naskah aslinya, bukan hanya doktrin melainkan juga fakta sejarah dan kehidupan.

Masalah bibliologi mendapat perhatian secara istimewa dari para teolog akhir abad ke-19 hingga sekarang ini. Terutama sejak dilancarkannya Kritik Historis, yang jelas sangat merendahkan status Alkitab sebagai firman Allah. Pada akhir abad ke 19 Kritik Historis, yang dikenal juga dengan Kritik Tinggi Liberal, mencapai puncaknya. Misalnya dengan Kritik Sastra terhadap kelima kitab Musa (Pentateukh) yang dikumandangkan oleh Julius Welhausan dalam bukunya berjudul Die Composition des Hexateuchs (1876) dan Prolegomena zur Geschichte Israels (1878).[1] Secara khusus yang menjadi perdebatan hingga kini adalah, apakah Alkitab berstatus “mungkin salah” atau “tidak mungkin salah.”

Pandangan yang menganggap Alkitab bisa salah dan bahkan bukan Firman Allah, telah meluas di beberapa Sekolah Tinggi Teologi yang cukup terkenal di Indonesia. Sekalipun pandangan ini belum menjemaat (memasyarakat), tapi dapat dibayangkan masa depan Gereja di Indonesia, kalau sebagian besar dari pimpinan gereja-gereja besar dan yang cukup berpengaruh di Indonesia telah menganut dan mulai mengajarkannya kepada jemaat. Para pimpinan dan anggota-anggota jemaat yang kurang memahami perkembangan teologi dewasa ini, tanpa sadar telah terkelabui dengan pandangan ini. Mereka turut mengakui bahwa Alkitab berisi firman Allah, sebab sepintas lalu pernyataan ini nampaknya benar. Mereka tidak tahu bahwa pernyataan ini dikemukakan oleh mereka yang menyangkal bahwa Alkitab adalah firman Allah. Dengan perkataan berisi, mereka mengakui bahwa sebagian di antaranya bukanlah firman Allah. Menurut Lindsell, pandangan seperti itu berarti menyangkal doktrin-doktrin utama mengenai iman Kristen, misalnya kelahiran Kristus dari anak dara, keilahian Kristus, mujizat-mujizat, penebusan pengganti dan kebangkitan tubuh.[2]

Di Indonesia sudah beredar buku-buku, yang dalam pembahasannya sangat merendahkan nilai Alkitab sebagai firman Allah. Buku-buku tersebut di antaranya adalah Alkitab di Dunia Modern, terjemahan dari buku The Bible in the Modern World, karangan James Barr dan Di Sini Kutemukan, karangan Wismoadi Wahono. Barr, dalam tulisannya, menyangkal relevansi Alkitab dengan dunia modern, dan menganggap Alkitab sudah kedaluarsa. Buku ini mendapat kritikan keras ketika mula-mula dipakai dalam seminar teologi Perjanjian Lama di STT Duta Wacana Yogyakarta. Tapi akhirnya mendapat sambutan yang hangat dari para mahasiswa. Cairns menjelaskan bagaimana penerimaan para mahasiswa pada waktu itu, sebagai berikut:

Tanggapan mahasiswa terhadap buku ini adalah menarik: Waktu baru mulai berkenalan dengan isinya ada yang mencapnya ‘radikal,’ atau merupakan “serangan terhadap kekudusan Alkitab,” atau “kurang relevan dalam konteks situasi teologi di Indonesia.” Akan tetapi di dalam proses membahasnya, timbullah dua kesan: yang pertama ialah bahwa gereja-gereja kita justru terancam bahaya, kalau kita (terutama Pendeta dan teolog) tidak ikut menggumuli masalah-masalah yang memikat perhatian James Barr dalam buku ini, dan kesan kedua ialah bahwa cara pemecahan masalah status Alkitab yang digariskan James Barr, justru dapat membuka kemungkinan bagi kita mencapai keyakinan dan keberanian yang lebih kokoh, dalam menggunakan Alkitab sebagai landasan kebaktian, pemberitaan, dan pelayanan Kristen.[3]

Buku ini sudah mengalami cetakan ulang oleh BPK Gunung Mulia. Cetakan pertama pada tahun 1979 dan kedua tahun 1983 dan terus dicetak ulang. Ini menunjukkan adanya sambutan baik dari umat Kristen di Indonesia, khususnya para mahasiswa Perguruan Tinggi Teologi dan para teolog yang mengutamakan rasio dan menganggap sepi campur tangan Roh Kudus secara istimewa kepada penulis-penulis kitab dalam Alkitab.

Kaum Injili menganggap pokok ini penting untuk diperhatikan secara khusus, karena itu pada bulan Oktober 1979 di Chicago berkumpullah kira-kira 300 sarjana Injili untuk membicarakannya bersama-sama. Konferensi ini disebut “The International Conference on Biblical Inerrancy” (ICBI), yang berhasil merumuskan 19 pasal Chicago Statement.” Makalah-makalah dibahas, dikumpulkan dan diterbitkan pada tahun 1980, dengan judul Inerrancy. Pada tanggal 23-31 Agustus 1982, kurang lebih 85 teolog Injili dari 17 negara di Asia, mengadakan pertemuan di Seoul, Korea, untuk mendiskusikan bagaimana menerapkan Alkitab dalam konteks yang berbeda di Asia. Pada pertemuan ini, pandangan “kemungkinan salah” dan “ketaksalahan” Alkitab turut dibahas.

Sekalipun kaum Fundamentalis dan kaum Injili begitu kokoh mempertahankan pandangan tradisionalnya mengenai Alkitab, yang tak dapat salah dan tak mungkin keliru, terdapat juga di antaranya yang sudah meninggalkan pandangan ini. Sedikit demi sedikit baik organisasi maupun secara individu, yang mulanya mengakui ketaksalahan Alkitab, beralih kepada pandangan yang menganggap bahwa Alkitab memiliki kesalahan-kesalahan dan bahkan mereka turut mempropagandakannya.[4] Misalnya G.G. Berkouwer dan para pengikutnya telah mengubah posisi Princeton dari pengakuan yang kokoh mengenai ketaksalahan Alkitab, sebagaimana yang dipertahankan B.B. Warfield sebelumnya, kepada penyangkalan terhadapnya.

Nampaknya yang menjadi harapan dewasa ini adalah kesediaan dari teolog-teolog rasionalis, naturalis, modernis, liberalis atau ekumenis untuk memberi tempat pada aspek adikodrati ketika memahami Alkitab dengan suatu metode pendekatan tertentu. Di pihak lain, teolog-teolog konservatif, tradisional, fundamentalis atau evangelikalis perlu secara bertanggungjawab dalam pengungkapan kebenaran Alkitab tanpa mengabaikan pertimbangan rasio, sebab Alkitab meliputi kodrati dan adikodrati. Pembahasan dalam buku ini, sesuai topik konsentrasi, telah dipertimbangkan dari kedua aspek tersebut, sehingga diharapkan dapat memberi kontribusi yang cukup berarti bagi studi bibliologi dan keteguhan iman bagi umat Tuhan.

Pemahaman Tema

Judul dari buku ini adalah “Inerrancy: Ketaksalahan Alkitab”. Istilah “Inerrancy” (ketaksalahan) diterjemahkan oleh Boeker dengan tiga kata dalam bahasa Indonesia, yaitu “tak dapat salah.”[5] Penulis memilih istilah “ketaksalahan” supaya tetap satu kata saja dan dengan demikian akan lebih mudah untuk menggunakan istilah itu secara berulang-ulang.

Menurut Feinberg istilah “inerrancy” adalah kata yang relatif baru dalam bahasa Inggris. Ia mengatakan bahwa istilah ini seolah-olah merupakan transliterasi dari kata Latin “inerratia,” bentuk partisip dari kata kerja “inerro,” tapi sebenarnya bukan.[6] Feinberg menyelidiki istilah ini dari kamus yang baginya cukup memadai, Oxford English-Dictionary. Di dalamnya disebutkan bahwa Boethius, yang hidup pada akhir abad keenam dan permulaan abad ketujuh, telah menggunakan istilah latin ‘inerratum’ dalam pengertian “ketidak-adaan salah.” Disebutkan juga Thomas Hardwell Horne telah menggunakan kata benda ‘inerrancy’ pada bukunya yang berjudul Introduction to the Critical Study and Knowledge of the Holy Scriptures. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1818.[7]

Dalam kamus Oxford, istilah ‘inerrancy’ diberi definisi sebagai berikut: “kualitas atau kondisi dari keberadaan yang tanpa salah atau tidak salah; bebas dari kesalahan.” Sedangkan ‘inerrant’ berarti “tidak berbuat kesalahan.” Sebaliknya istilah ‘errant’ didefinisikan sebagai berikut: “tindakan atau keadaan yang salah”; “keadaan salah dalam pandangan”; “suatu yang dilakukan secara tidak tepat karena ketidaktahuan atau karena tidak hati-hati; suatu kesalahan.”[8]

Beberapa teolog Injili, tidak setuju dengan penggunaan istilah ‘inerrancy.’ Misalnya Lasor tidak setuju karena istilah ini meniadakan konsep negatif. Ridderbos dan Piepkorn mengatakan bahwa istilah ini tidak Alkitabiah. Pinnock mengatakan bahwa istilah ini hanya dihubungkan dengan naskah asli dan tidak menegaskan kewibawaan teks Alkitab yang kita gunakan.[9] Istilah-istilah yang mereka usulkan mengenai diskusi ini ialah ‘inspirasi’, ‘ketiadaan cacat’, ‘tak dapat keliru’, dan ‘tak terdapat penipuan’. Tapi Feinberg menganggap bahwa istilah ‘inerrancy’ yang lebih tepat, sesuai dengan gambaran data Alkitab. Sebab sisi positif dari istilah ini mengatakan bahwa Alkitab benar seluruhnya. Data Alkitab dapat dilihat dalam Mazmur 119, “Tauratmu benar” (ay. 142): “Segala perintah-Mu adalah benar” (ay. 151); “FirmanMu adalah kebenaran” (ay. 160). Juga dalam Amsal 30:5, “Firman Allah adalah kebenaran.” Dengan dasar ini pula Feinberg memberi definisi sebagai berikut:

Ketaksalahan berarti bahwa bila semua fakta Alkitab dalam tulisan aslinya diketahui dan ditafsirkan dengan semestinya, segala sesuatu akan terbukti benar seluruhnya dan dikokohkan, apakah menyangkut doktrin atau moralitas atau sosial, fisik atau ilmu pengetahun.[10]

Bagi Lindsell, istilah ‘infallible’ (tak dapat keliru) dan ‘inerrant’ (tak dapat salah) adalah dua kata bersinonim, yang dapat dipertukarkan. Ia menggunakan kedua kata itu secara bergantian untuk membicarakan pokok mengenai Alkitab, dalam hal dapat dipercaya, berwibawa, dan sebagainya.[11] Dalam diskusi mengenai ketaksalahan Alkitab, kata-kata kunci dan penting yang berhubungan erat dengannya adalah meliputi istilah ‘penyataan’, ‘pengilhaman’, ‘penerangan’, ‘kewibawaan’, dan ‘penafsiran’.[12] Menurut Geisler, pengajaran mengenai ketaksalahan Alkitab merupakan unsur dasar dari kewibawaan Alkitab dan sesuatu yang diperlukan demi gereja Kristus yang sehat, dalam suatu usaha memenangkan gereja kembali kepada posisi sejarah.[13]

Ketaksalahan Alkitab yang dibicarakan dalam tulisan ini adalah ketaksalahan naskah-naskah asli (original authographs), bukan pada naskah salinan atau versi-versi terjemahan Alkitab.

Lingkup dan Sistematika Pembahasan

Ruang lingkup pembahasan berkonsentrasi pada masalah ketaksalahan Alkitab, meskipun tema-tema tertentu dikemukakan juga tapi hanya sebatas atau sejauh memperjelas tema utama. Lingkup penyelidikan adalah pandangan-pandangan para tokoh sejarah gereja, filsuf, kaum liberal, neoortodoks, kaum Injili, dan klimaksnya adalah pengajaran dari Alkitab itu sendiri.

Pembahasan secara sistematis didahului dengan pengungkapan beberapa pandangan mengenai Alkitab bisa salah (errancy), sehingga dapat mengetahui letak permasalahan sebelum membahas masalah ketaksalahan Alkitab. Selanjutnya tentang pandangan Kaum Islam terhadap inerrancy dan errancy Alkitab. Lingkup sebagian besar pembaca berada dan hidup di sebuah negeri, Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, karena itu pandangan kaum Islam tentang Alkitab disertakan pada pembahasan ini. Terdapat nuansa tersendiri dalam pandangan Islam, karena pengakuan akan adanya dua macam Alkitab, yaitu Alkitab yang tanpa salah (inerrancy) dan yang dapat salah (errancy).

Pembahasan berikutnya khusus tentang contoh bagaimana mencari solusi berhubungan dengan perkara-perkara yang tidak bersesuaian dalam Alkitab, yang sering digolongkan sebagai kesalahan-kesalahan oleh penganut errancy Alkitab. Dengan demikian dapat diketahui bahwa bagian-bagian tertentu dalam Alkitab yang masih dipersoalkan, karena dianggap kesalahan, sebenarnya hanyalah merupakan kesulitan-kesulitan yang belum terjangkau oleh akal manusia, yang memang terbatas itu. Selanjutnya dikemukakan bagaimana pandangan-pandangan dari tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga Injili, yang memegang teguh pengakuan akan inerrancy Alkitab, untuk mendapat gambaran dari perkembangan historis, seberapa banyak dan luasnya jangkauan, serta berapa lama pengakuan tersebut diterima. Hal ini dapat memberikan bukti bahwa orang-orang beriman dari kalangan cerdik cendekia sekalipun, yang juga memberi tempat terhormat bagi rasio, dari generasi ke generasi, memegang teguh pangakuan akan ketaksalahan Alkitab. Jadi pengakuan ketaksalahan Alkitab bukan dari pertimbangan iman semata-mata, melainkan juga rasio. Pembahasan yang merupakan klimaks adalah pengajaran dari Alkitab sendiri, dengan mengambil sample pengajaran Tuhan Yesus, rasul Paulus, dan rasul Petrus. Pengajaran dari ketiga tokoh penting ini dianggap paling representatif untuk penyelidikan tentang pengajaran Alkitab sendiri tentang ketaksalahan Alkitab. Meskipun ada hukum yang menolak kesaksian atau pembenaran dari diri sendiri tentang status kebenaran dirinya, tapi Alkitab bukan “diri sendiri”, melainkan kumpulan 66 kitab yang ditulis oleh puluhan orang dalam jangka waktu ribuan tahun. Alkitab bukan suatu tulisan hasil rekayasa orang tertentu, tapi ada tuntunan super-natural dalam jangka waktu yang panjang bagi para penulis, karena itu pengajaran dari Alkitab sendiri merupakan argumentasi terkuat dan otoritas tertinggi. Pada bagian penutup buku ini diberikan kesimpulan sebagai gambaran ringkas tentang inti pembahasan. Bersamaan dengan itu juga diberikan aplikasi praktis untuk menemukan manfaat dari penulisan buku ini.



[1]Ronald Youngblood, “Introduction,” The Higher Criticism of the Pentateuch, By William Henry Green (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1978), h. v.

[2]Harold Lindsell, A Handbook of Christian Truth (Westwood, N.J.: Fleming H. Revell Company, n.d.), h. 22-23.

[3]I.J. Cairns, “Kata Pengantar.” Alkitab di Dunia Modern, oleh James Barr (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), h. 5.

[4]Harold Lindsell, The Battle for the Bible (Grand Rapids: Zondervan, 1976.), h. 19.

[5]T.G.R. Boeker, “Alkitab Tak Dapat Salah (Innerancy)”, Buletin Soteria (November-Desember 1985), h. 24.

[6]Paul D. Feinberg, “The Meaning of Innerancy” Innerancy, ed. Norman L. Geisler (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1980), h. 291.

[7]Ibid., h. 291-292.

[8]Ibid.

[9]Ridderbos dan Piepkorn, sebagaimana yang dikutip oleh Feinberg dalam “The Meaning of Innerancy” Innerancy, h. 292-293.

[10]Ibid., h. 294.

[11]Lindsell, The Battle, h. 27.

[12]Ibid., h. 28.

[13]Norman L. Geisler, ed. Inerrancy (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1980), h. ix.

3 komentar:

samuelgoodnews mengatakan...

shalom pak Tindas. Saya Samuel, mahasiswa bapak di program S2 HITS Semarang, lulusan 2004.
Puji Tuhan sekarang saya ambil Program S2 di STBI dan sudah selesai, lanjut ke program S3 STBI.
Saya senang dengan buku bapak.
Hanya saja cetakan STII Yogyakarta,1997, spasinya terlalu panjang ya pak.
Tapi yang penting contentnya full spirit. Di era sekarang, kita memang harus memberikan terpaan angin pengajaran yag benar.
Trimakasih pak. Buku bapak menjadi rekomendasi, dan akan saya rekomendasi untuk temen yang lain. Sola gratia.
Samuel
samuelgoodnews@gmail.com

Marciano Karno mengatakan...

Shalom pak pdt, sy di berkati dgn tulisan2 bpk, sy akan menitikberatkan Bibleliogi ini kpda siswa/i Hagios SoM kmi...trmksih.

Indira Efatana mengatakan...

babeh arnold hebaaaatt bukunyaaaaaaaaaaaa!!